Tanjung Selor – Ruang Rapat Gunung Putih, Kantor BAPPERIDA Provinsi Kalimantan Utara, menjadi tempat pelaksanaan Kunjungan Kerja dan Pembinaan Teknis Tim Kajian Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Selasa (28/7/2026). Agenda strategis ini dipimpin langsung oleh Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Dr. Ir. Wiwiek Joelijani, M.T., dengan fokus utama membahas kajian "Pemanfaatan Beras Adan Krayan Sebagai Pangan Lokal Unggulan Untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat di Kalimantan Utara". Kegiatan ini bertujuan untuk merumuskan strategi optimalisasi sertifikasi Indikasi Geografis (IG) agar komoditas lokal tersebut memiliki daya saing global, sekaligus memperkuat sinergi kelembagaan antara BRIN dan BAPPERIDA Kaltara dalam mengorkestrasi kebijakan berbasis bukti.
Dalam sesi pembinaan teknis, BRIN menyampaikan penguatan kerangka penilaian kinerja BAPPERIDA yang berfokus pada tiga indikator utama, yaitu: fasilitasi riset dan inovasi (20%), pemanfaatan kebijakan berbasis bukti (40%), dan pemanfaatan hasil riset serta inovasi (40%). Untuk mendukung ekosistem inovasi yang lebih kolaboratif dan mempercepat hilirisasi, BRIN merekomendasikan pengembangan "Rumah Inovasi Daerah". Rumah Inovasi ini akan berfungsi sebagai etalase, pusat layanan, dan hub kolaborasi yang mempertemukan kebutuhan pembangunan daerah dengan solusi berbasis riset dari perguruan tinggi, lembaga riset, dunia usaha, hingga komunitas, sehingga memastikan hasil inovasi tidak hanya berakhir sebagai dokumen, melainkan memberikan dampak ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat.
Pada sesi diskusi dan koordinasi, pembahasan juga mengerucut pada kearifan lokal dan potensi Beras Adan Krayan dari Kabupaten Nunukan. Perwakilan dinas terkait memaparkan praktik pertanian unik di mana lahan dibiarkan secara alamiah dengan kotoran kerbau dan masa tanam hanya dilakukan sekali setahun (sekitar bulan Februari-Maret) untuk menghindari serangan hama, yang menjadi bagian dari identitas Indikasi Geografis. BRIN menegaskan bahwa kajian ini bertujuan untuk memperbaiki rantai pasok, mencegah praktik sistem "ijon" yang merugikan petani, serta melindungi identitas produk dari risiko re-branding oleh pihak luar. Melalui pendampingan yang tepat, Beras Adan Krayan diharapkan dapat bertransformasi menjadi local champion yang diakui secara meluas dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani di Kalimantan Utara.
